![]() |
| siswa SMK AL-Irsyad tengah mengaji, mendengar tausiah serta berdoa bersama demi menambah keimanan dan pengetahuan tentang agama di lapangan sekolah Al-Irsyad. Foto. Nurwahidah |
Kita juga tidak bisa menafikan jika dalam kurun terakhir ini banyak isu-isu yang beredar tak sedap bahwa pendidikan agama dikurangi, bahkan dihapus dari daftar mata pelajaran nasional. Apa yang terjadi? ndak usah sinis dan pesimis, lanjut baca yuk!
Jika kita membaca dan mengetahui hal demikian secara seksama, sesungguhnya hati kita jadi sedih. Kenapa? karena bayangkan, jika seandainya pelajaran agama dan dikurangi serta dihapuskan, bagaimana nasib anak bangsa ini ke-depan? bagaimana dengan perilaku mereka? bagaimana dengan akhlak mereka? bagaimana dengan ketakwaan mereka? bagaimana hubungan mereka dengan guru? bagaimana hubungan mereka dengan siswa, bagaimana hubungan mereka dengan lingkungan mereka? bagaimana mereka bisa menjalani hidup dengan norma dan nilai yang bisa membimbing mereka menjadi manusia yang baik? bagaimana mereka dapat mempertahankan eksistensi bangsa yang diwarisi oleh para pejuang yang mayoritas beragama isilam ini ke depan? jutaan pertanyaan mungkin akan muncul jika pendidikan agama sampai dihapus.
Dalam hal ini kita mesti tegas. hal ini mungkin demi kepentingan bersama,bahkan keperluan tiap pribadi manusia, sebab agama adalah untuk segalanya (laki-laki dan perempuan, muda maupun yang tua, kaya dan miskin, rakyat maupun pejabat). Orang bisa berjuang karena agama, orang bisa berkorban karena agama bahkan maju mundurnya suatu bangsa dan negara sangat bergantung baik buruknya umat beragama yang ada dalam bangsa dan negara tersebut.
Kalau kita mau jujur, tanpa berpikir liberal dan ateis, sejatinya fitrah manusia tidak bisa lepas dari agama. Mungkin manusia bisa lepas dari busana;baju dan celana yang ia pakai, tapi belum tentu manusia bisa melpaskan fitrah agama yang sudah mereka bawa masing-masing dari alam ruh. Meski ini dialamatkan pada pandangan satu arah, yaitu dari Islam saja. Kita juga kadang harus open mind (meluruskan akal), bahwa manusia membutuhkan agama untuk jiwanya seperti manusia membutuhkan makanan untuk raganya.
Ada banyak referensi yang kita bisa jadikan dalil bahwa kita sangat butuh pada agama, semuanya dapat kita akses dari mana saja;entah dari buku, dari surat kabar, media, apalagi sekarang semua sangat gampang, dari mana saja kita dapat meng-updet dengan nge-goegle, karena dari sini banyak tersedia semua jenis informasi yang kita butuhkan.
Bagi saya pribadi, agama itu semacam kompas kehidupan yang bisa menunjuk saya kepada titik yang benar dan membawa kepada keyakinan yang benar. Terutama soal ketuhanan. Allah, maksud saya. Juga bagi saya yang amat penting, beragama dapat membuat saya mampu menata potensi pikiran dan akal yang saya miliki (order of mind). Dari sinilah mungkin hal-hal terkecil dalam kehihupan kita bisa terlaksana dan berjalan dengan baik. Bagi saya kebaikan meski dengan kebenaran, dan kebenaran harus membuahkan yang baik-baik. Tentu mungkin semua dengan melewati jalan yang panjang dan proses yang tidak instan. Kan, sudah menjadi sunnatullah bahwa yang baik itu jika ingin menjadi yang terbaik harus di uji dulu. Semoga...
Juraidin
Pengajar di SMK Al-Irsyad Jakarta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar